Sabtu, 13 Maret 2010
Jumat, 05 Maret 2010
SERIBU HARI
kasih
kutahu kau takkan pernah kembali
kusadar kau takkan pernah bisa kutemui
kuyakin kau takkan pernah bersamaku lagi
tapi ingin kukatakan kepadamu
walau kau tak bisa mendengarku lagi
aku masih mengenangmu
cintaku padamu masih kusimpan
rinduku padamu masih kupendam
kasih
seribu hari sudah
kulalui hidupku tanpamu
jika seribu hari adalah bayangan
maka bayangan itu adalah langkah kakiku
jika seribu hari adalah sepi
maka sepi itu adalah suasana hatiku
jika seribu hari adalah mimpi
maka mimpi itu adalah pengiring tidurku
kasih
jika aku seorang maharaja
akan kubangun istana megah untuk mengenangmu
sebagaimana sang maharaja Shah Jahan
membangun istana Taj Mahal
untuk mengenang istri tercintanya Mumtaz Mahal
kasih
kubiarkan seribu hari berlalu
tapi takkan kubiarkan jiwaku melupakanmu
bukankah melupakanmu adalah
sama maknanya dengan melupakan anak-anak kita?
kasih
masih sangat jelas dalam ingatanku
seribu hari yang lalu
setelah hampir dua jam
kau, aku dan anak kita
bercanda ria dalam kegembiraan
berhimpitan mesra di kasur yang sempit itu
berbincang mereka-reka rencana esok hari
berpelukan bak penganten baru
sampai akhirnya ….
sambil berbalutkan selimut kuning
lirih namun terdengar sangat jelas
kau berkata
“Pah, Fino jak metu sik. Aku meh turu”
ah …
tak pernah kumenduga
tak pernah kumenyangka
tak pernah kumembayangkan
itulah kalimat terakhirmu
itulah kalimat perpisahan darimu
itulah kalimat yang menandai kepergianmu
itulah tidurmu yang sangat panjang
itulah tidurmu yang tak pernah bisa kubangunkan
itulah tidurmu yang tak mampu
melihat terbitnya matahari kala fajar
sunnguh aku hanya menduga kau memang akan tidur
sungguh aku hanya menyangka kau memang butuh istirahat
sungguh aku hanya membayangkan kau akan terbangun
esok hari dengan badan bugar
dan kita akan lalui lagi hari-hari kita
dalam kemesraan dan kebahagiaan
tapi….
kau tak pernah terbangun lagi
telingamu tak bisa mendengarku lagi
detak jantungmu tlah terhenti
nadimu tlah hilang
badanmu terbujur
matamu terkatup
bibirmu tertutup
sungguh…
tak nampak tanda-tanda kau tlah pergi
kau lebih mirip putri tidur
yang cantik bak bidadari
yang lelap terbuai mimpi
yang pancaran wajahnya meyiratkan kedamaian
yang bibirnya mengguratkan senyum
yang rambut panjangnya tergerai indah
jika saat itu adalah dongeng
maka kau sedang menunggu
seorang pangeran tampan
yang akan membangkitkan si putri tidur
tapi itu bukan dongeng
dan aku bakan pangeran tampan itu
kasih
kini kau tlah tiada
kebersamaan kita tinggal kenangan
kenangan indah yang kuyakin takkan terlupakan
kenangan indah yang mungkin tak mampu kugapai lagi
kasih
telah kucoba menyayangimu dengan sepenuh hatiku
namun kasih sayang yang kuberikan padamu
mungkin bagai setetes air di samudra maha luas
tak sebanding dengan kasih sayang
yang kau berikan padaku
telah kucoba membahagiakanmu dengan segenap cintaku
namun kebahagiaan yang kuberikan padamu
mungkin bagai sebutir pasir di gurun tanpa batas
tak sebanding dengan kebahagiaan
yang kau berikan padaku
Ya Allah, Tuhan penguasa jagat raya
Kaulah yang maha berkehendak atas segala ciptaanMu
Kau ambil apa yang menjadi milikMu
Kau panggil siapa yang harus Kau panggil
Kau jemput siapa yang harus Kau jemput
Ya Allah, Tuhan yang maha pengampun
aku hanyalah manusia lemah tanpa daya
kepasrahan adalah benteng terakhirku
bukankah setiap yang bernyawa pasti akan mati?
aku tak kuasa mencegah kehendakMu
sekalipun yang terjadi bukan yang kuharapkan
aku tak mampu menghalangi kahendakMu
sekalipun yang terjadi membuatku sedih dan pedih
aku tak bisa menolak kehendakMu
sekalipun yang terjadi adalah kegetiran hidupku
Ya Allah, Tuhan yang maha penyayang
Ampunilah segala dosa dan kesalahan almh istriku
Terimalah segala amal ibadahnya
Lapangkanlah kuburnya
Dan lapangkanlah jalan baginya
Untuk menghadapMu
Ya Allah, Tuhan yang maha perkasa
Berikanlah aku petunjuk
Berikanlah aku kekuatan
Semarang, 19 Juli 2008
Drs. Iman Suroso
kasih
kutahu kau takkan pernah kembali
kusadar kau takkan pernah bisa kutemui
kuyakin kau takkan pernah bersamaku lagi
tapi ingin kukatakan kepadamu
walau kau tak bisa mendengarku lagi
aku masih mengenangmu
cintaku padamu masih kusimpan
rinduku padamu masih kupendam
kasih
seribu hari sudah
kulalui hidupku tanpamu
jika seribu hari adalah bayangan
maka bayangan itu adalah langkah kakiku
jika seribu hari adalah sepi
maka sepi itu adalah suasana hatiku
jika seribu hari adalah mimpi
maka mimpi itu adalah pengiring tidurku
kasih
jika aku seorang maharaja
akan kubangun istana megah untuk mengenangmu
sebagaimana sang maharaja Shah Jahan
membangun istana Taj Mahal
untuk mengenang istri tercintanya Mumtaz Mahal
kasih
kubiarkan seribu hari berlalu
tapi takkan kubiarkan jiwaku melupakanmu
bukankah melupakanmu adalah
sama maknanya dengan melupakan anak-anak kita?
kasih
masih sangat jelas dalam ingatanku
seribu hari yang lalu
setelah hampir dua jam
kau, aku dan anak kita
bercanda ria dalam kegembiraan
berhimpitan mesra di kasur yang sempit itu
berbincang mereka-reka rencana esok hari
berpelukan bak penganten baru
sampai akhirnya ….
sambil berbalutkan selimut kuning
lirih namun terdengar sangat jelas
kau berkata
“Pah, Fino jak metu sik. Aku meh turu”
ah …
tak pernah kumenduga
tak pernah kumenyangka
tak pernah kumembayangkan
itulah kalimat terakhirmu
itulah kalimat perpisahan darimu
itulah kalimat yang menandai kepergianmu
itulah tidurmu yang sangat panjang
itulah tidurmu yang tak pernah bisa kubangunkan
itulah tidurmu yang tak mampu
melihat terbitnya matahari kala fajar
sunnguh aku hanya menduga kau memang akan tidur
sungguh aku hanya menyangka kau memang butuh istirahat
sungguh aku hanya membayangkan kau akan terbangun
esok hari dengan badan bugar
dan kita akan lalui lagi hari-hari kita
dalam kemesraan dan kebahagiaan
tapi….
kau tak pernah terbangun lagi
telingamu tak bisa mendengarku lagi
detak jantungmu tlah terhenti
nadimu tlah hilang
badanmu terbujur
matamu terkatup
bibirmu tertutup
sungguh…
tak nampak tanda-tanda kau tlah pergi
kau lebih mirip putri tidur
yang cantik bak bidadari
yang lelap terbuai mimpi
yang pancaran wajahnya meyiratkan kedamaian
yang bibirnya mengguratkan senyum
yang rambut panjangnya tergerai indah
jika saat itu adalah dongeng
maka kau sedang menunggu
seorang pangeran tampan
yang akan membangkitkan si putri tidur
tapi itu bukan dongeng
dan aku bakan pangeran tampan itu
kasih
kini kau tlah tiada
kebersamaan kita tinggal kenangan
kenangan indah yang kuyakin takkan terlupakan
kenangan indah yang mungkin tak mampu kugapai lagi
kasih
telah kucoba menyayangimu dengan sepenuh hatiku
namun kasih sayang yang kuberikan padamu
mungkin bagai setetes air di samudra maha luas
tak sebanding dengan kasih sayang
yang kau berikan padaku
telah kucoba membahagiakanmu dengan segenap cintaku
namun kebahagiaan yang kuberikan padamu
mungkin bagai sebutir pasir di gurun tanpa batas
tak sebanding dengan kebahagiaan
yang kau berikan padaku
Ya Allah, Tuhan penguasa jagat raya
Kaulah yang maha berkehendak atas segala ciptaanMu
Kau ambil apa yang menjadi milikMu
Kau panggil siapa yang harus Kau panggil
Kau jemput siapa yang harus Kau jemput
Ya Allah, Tuhan yang maha pengampun
aku hanyalah manusia lemah tanpa daya
kepasrahan adalah benteng terakhirku
bukankah setiap yang bernyawa pasti akan mati?
aku tak kuasa mencegah kehendakMu
sekalipun yang terjadi bukan yang kuharapkan
aku tak mampu menghalangi kahendakMu
sekalipun yang terjadi membuatku sedih dan pedih
aku tak bisa menolak kehendakMu
sekalipun yang terjadi adalah kegetiran hidupku
Ya Allah, Tuhan yang maha penyayang
Ampunilah segala dosa dan kesalahan almh istriku
Terimalah segala amal ibadahnya
Lapangkanlah kuburnya
Dan lapangkanlah jalan baginya
Untuk menghadapMu
Ya Allah, Tuhan yang maha perkasa
Berikanlah aku petunjuk
Berikanlah aku kekuatan
Semarang, 19 Juli 2008
Drs. Iman Suroso
Label:
heart touching poem
Langganan:
Komentar (Atom)




